Santo Yosef dari Cupertino

BEBERAPA CATATAN DARI KEHIDUPAN SANTO YOSEF DARI CUPERTINO (1603-1663; Pesta 18 September) 

Pada suatu hari seorang  anak laki-laki yang masih kecil ikut berziarah ke gereja di Grottella. Anak itu dibawa menghadap Pater Yosef dari Cupertino. Pater Yosef menyuruh anak itu duduk dan memintanya mengulangi kata-katanya: “Saudara Yosef adalah seorang pendosa besar dan apabila dia mati, dia akan pergi ke neraka!” Namun anak kecil yang belum berumur dua tahun itu menjawab seperti berikut: “Saudara Yosef adalah seorang kudus yang besar dan apabila dia mati, dia akan pergi ke surga!” 

Pada hari ini kita merayakan Pesta Santo Yosef dari Cupertino, seorang imam dari Ordo Saudara Dina Conventual (OFMConv.). Seorang kudus yang diingat orang karena kesederhanaannya, ekstase-nya yang acapkali terjadi dalam keadaan melayang-layang di udara, dan dirinya dipenjarakan bukan oleh polisi tetapi atas perintah para petinggi Gereja. Yang terpenting adalah cintakasihnya kepada Yesus dan hal-hal ilahi. Dia juga dikenal untuk devosinya yang mendalam kepada Bunda Maria. 

Pada tahun 2003 yang lalu, Gereja merayakan 400 tahun kelahiran orang kudus ini. Dalam rangka perayaan ini, Paus Yohanes Paulus II dalam pesannya mengatakan: “Santo Yosef dari Cupertino terus memancarkan sinar pada zaman kita, layaknya sebuah mercu suar yang menyinari jalan sehari-hari dari mereka yang minta pertolongan kepadanya untuk doa syafaat surgawi.”[1] Paus Pius XI memproyeksikan Santo Yosef dari Cupertino sebagai model kesucian bagi para imam. Paus Paulus VI mengingatkan, bahwa pada zaman ini, di mana iman semakin lemah dan hasrat-hasrat duniawi bertumbuh semakin kuat, teladan cemerlang orang kudus dari Cupertino ini dapat membangkitkan kita kembali dari ketiadaan-kegiatan untuk melakukan hal-hal yang patut dipuji dan mulia![2] 

The Flying Saint. Orang kudus ini dikenal juga sebagai The Flying Saint karena suka melayang dalam ekstasenya. Oleh karena itu dia dijadikan orang kudus pelindung bagi orang-orang yang bepergian dengan pesawat udara dan juga bagi pilot-pilot NATO. Dia juga diangkat menjadi orang kudus pelindung bagi para siswa/siswi (mahasiswa/mahasiswi) yang  mau mengikuti ujian-ujian. Pemakamannya di Osimo merupakan pusat ziarah dan devosi, pada saat yang sama menjadi kebanggaan kota itu. Di Cupertino sendiri, dalam kandang hewan di mana orang kudus ini dilahirkan ada tempat relikui yang berisikan jantungnya, sebuah tempat di mana orang-orang datang berduyun-duyun guna menumpahkan isi hati mereka. Tidak sedikit para ilmuwan yang melakukan penyelidikan ilmiah atas orang kudus ini, termasuk studi-studi psikologis. Ada sebuah film tentang orang kudus ini yang berjudul The Reluctant Saint.  

Masa  muda Santo Yosef dari Cupertino[3] 

Lahir di kandang hewan. Seperti Yesus Kristus dan Santo Fransiskus dari Assisi, Yosef juga dilahirkan di sebuah kandang hewan. Ayahnya bernama Felix Desa, seorang tukang kayu yang mahir dan penjaga sebuah kastil (istana-benteng) milik keluarga Adipati Pinelli. Pak Felix Desa adalah seorang yang baik-hati dan easy going. Antara lain karena banyak menolong teman-temannya yang membutuhkan bantuan, akhirnya dia sendiri menjadi terjerat dalam hutang. Hal ini kemudian menyebabkan dia meninggalkan rumahnya dan bersembunyi agar tidak tertangkap pihak yang berwajib. Polisi sering mendatangi rumahnya untuk menangkapnya dan menjebloskannya ke dalam penjara. Dalam salah satu peristiwa seperti itu, istrinya, Franceschina Panaca, yang hamil tua melarikan diri ke sebuah kandang hewan yang terletak tidak jauh dari rumahnya. 

Yosef dibaptis pada tanggal 17 Juni 1603. Bersama saudarinya yang bernama Livia (empat anak lainnya meninggal dunia ketika masih kecil sekali), Yosef dididik dalam kesalehan oleh ibundanya yang adalah seorang anggota ordo ketiga (sekular) Santo Fransiskus teladan. Meskipun hidup dalam keadaan sangat susah, Bu Franceschina memilik keutamaan iman, teladan yang baik, dan pengorbanan-diri yang lengkap dan total. Pada masa itu hanya orang-orang berada saja yang dapat bersekolah, namun Yosef disekolahkan. Karena sifatnya yang tegas  dan agak pemarah, Yosef tidak mempunyai banyak teman di sekolah. Sekali peristiwa setelah mendengar suara dari organ pada sebuah kebaktian keagamaan, Yosef mengalami trance dengan mulutnya ternganga lebar. Hal seperti ini begitu sering terjadi sehingga teman-temannya menjulukinya ‘si mulut ternganga’. 

Sakit – mukjizat – sembuh. Sayangnya Yosef muda tidak dapat bersekolah lama karena tumor ganas yang dideritanya. Dia harus berbareng di tempat tidurnya selama lima tahun. Masa ini praktis dijalaninya dalam keheningan. Seringkali Yosef bermimpi tentang Santo Fransiskus dan cerita-cerita yang pernah diceritakan oleh ibundanya. Panggilan Allah baginya untuk menjadi seorang imam mulai mematang pada masa sakitnya itu. Di Napoli seorang dokter berupaya melakukan operasi, namun tidak berhasil. Kemudian Bu Franceschina membawa anaknya ke tempat ziarah ‘Santa Maria dari Rahmat’ di Galatone. Di tempat itu dia mengurapi anaknya dengan minyak lampu di tempat peziarahan itu. Mukjizat terjadi…… Yosef pulang bersama ibundanya dalam keadaan sembuh. Kehidupan Yosef memang sarat dengan mukjizat

Anak muda dengan ‘talenta’ terbatas. Ketika berumur 14 tahun Yosef berdagang sayur-mayur, kemudian dia bekerja di sebuah toko pembuat sepatu. Namun kelihatannya anak muda ini tidak berbakat untuk melakukan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, antara lain karena ketidakmampuan alamiahnya dan seringnya dia mengalami distraksi. Pada masa inilah Yosef sudah mulai bermimpi mendedikasikan dirinya bagi Allah. Yosef mempunyai cukup banyak anggota keluarga di Ordo Saudara Dina Conventual, namun permohonannya untuk bergabung dengan ordo itu ditolak. Lalu dia mencoba masuk bergabung dengan para Fransiskan Reformasi di Casole, yang dengan berbagai alasan juga menangguhkan penerimaan anak muda ini. 

Bersama beberapa orang temannya dia mendatangi Provinsial Kapusin (sekarang OFMCap.) untuk diterima sebagai seorang bruder. Yosef diterima dan langsung dikirim ke novisiat di Martina Franca pada bulan Agustus 1620. Dia diberi nama Bruder Stefan. Setelah delapan bulan Bruder Stefan dikeluarkan karena tidak berbakat bekerja sebagai tukang kebun maupun jurumasak dan beberapa alasan lainnya, termasuk tumor di lututnya. Setelah peristiwa ini Yosef tidak berani bertemu dengan ibundanya. Setelah dua hari lamanya berjalan kian-kemari di daerah luar kota, dia bertemu dengan pamannya, yaitu Pater Fransiskus Desa yang baru saja berkhotbah masa prapaskah di Avetrana yang terletak dekat sungai Jonio. Pada waktu bertemu dengan pamannya itulah Yosef mengetahui tentang wafat ayahnya, dan menurut hukum yang berlaku pada waktu dia pun harus menggantikan ayahnya masuk penjara kalau bertemu dengan para kreditur. 

Ditemani oleh Pater Fransiskus Desa, Yosef pulang ke rumahnya di Cupertino. Ibundanya mohon kepada iparnya yang imam itu agar menolong puteranya, tetapi Pater Fransiskus Desa menolak. Lalu Yosef pergi menuju Grottella yang tidak jauh letaknya dari Cupertino. Di sana seorang pamannya, Pater Yohanes Donatus Caputo yang adalah Provinsial Puglia dan Polandia sedang membangun sebuah biara kecil. Di sini tidak ada yang mau membantu Yosef, namun seorang imam yang bertugas dalam sakristi mengizinkan Yosef untuk bersembunyi dalam sebuah ruang kecil di loteng gereja. Enam bulan penderitaan berlalu. Akhirnya kedua orang pamannya merasa kasihan atas keponakan mereka, setelah mendengar nasibnya yang menyedihkan dan keutamaan-keutamaan tersembunyi yang dimiliki anak muda itu. Mereka pun memberikan jubah seorang ordo ketiga kepada Yosef, artinya secara otomatis memberikan kepadanya suatu pengecualian dari berlakunya hukum sekular atas dirinya. 

Penyelenggaraan Ilahi 

Karena kesalehannya dan keutamaan-keutamaan yang ada dalam dirinya, maka ketika berumur dua puluh dua tahun Yosef diperkenankan memakai jubah seorang bruder. Statusnya sebagai bruder tidak akan berubah seandainya seorang saudara tidak menemukan bahwa Yosef diam-diam sedang belajar di malam hari untuk mengatasi kekurangannya dalam hal pengetahuan dan belajar. Pater Fransiskus Desa sangat terkesan akan kenyataan tersebut dan mengusulkan agar Yosef diterima dalam Ordo Saudara Dina Conventual sebagai seorang klerus. Tentu saja dia tidak akan sedemikian pandainya dengan latar belakang pendidikan tinggi, namun akan mampu merayakan Misa dan melayani orang-orang dalam sebuah gereja kecil di pedesaan, pikir Pater Fransiskus Desa. Pater Caputo memecahkan masalah usulan ini dalam pertemuan para superior Ordo yang diselenggarakan di Altamura pada tanggal 19 Juni 1625. Dispensasi istimewa pun diperoleh. Frater Yosef masuk novisiat seorang diri di Grottella di bawah bimbingan dan pengawasan ketat oleh Pater Yohanes Baptis Panaca, seorang anggota keluarga dari pihak ibundanya, dan juga Pater Caputo. Memang ada waktu-waktu di mana Allah memperkenankan umat-Nya memanfaatkan ‘jejaring koneksi’ yang ada, tentunya untuk suatu kebaikan. Penyelenggaraan ilahi? 

Setelah mengatasi beberapa kesulitan, teristimewa dalam mempelajari Latin dan menghafal dua belas bab dari Peraturan Hidup Ordo, Frater Yosef secara resmi diterima ke dalam Ordo Saudara Dina Conventual oleh profesi kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Suatu hari yang sungguh membahagiakan Frater Yosef. Di bawah bimbingan para pamannya, Frater  Yosef kemudian menyiapkan studi teologi moral dan teologi dogmatik. Dia diangkat menjadi sub-diakon pada tanggal 27 Februari 1627. Hukum Kanon yang berlaku tidak mengizinkan seseorang untuk diangkat menjadi diakon sebelum mengikuti ujian menyeluruh yang berat-keras. Sang calon diakon harus membaca, mendaras dan mengomentari beberapa bacaan dari Injil. Menyadari kekurangannya dalam bahasa Latin, dengan rendah hati Yosef mohon syafaat Santa Perawan Maria dari Grottella. Dalam ujian diakonat ini uskup dari Nardo minta Yosef mengomentari teks Luk 11:27, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau”, satu-satunya teks yang dikuasai oleh Yosef. Dia diangkat menjadi diakon pada tanggal 30 Maret  1627, langkah terakhir sebelum ditahbiskan sebagai seorang imam. 

Tahapan berikutnya lebih sulit lagi … menerima sakramen imamat. Harapan terakhir Yosef seakan sirna begitu dia mendengar bahwa Uskup dari Nardo (kawan baik dari pamannya, Romo Caputo) sedang tidak ada di tempat karena harus melakukan perjalanan dinas. Oleh karena itu ujian untuk menjadi imam ini akan dipimpin oleh Yohanes Baptis Deti, uskup dari Castro, yang sangat dikenal sangat keras. Bersama para siswa dari Lecce, frater Yosef pergi ke Poggiardo. Di sana dia tidak tidur samasekali karena berdoa dalam kecemasannya. Dia kemudian hari, seorang kawannya mengatakan: “Karena dia tahu bahwa dirinya sangat lemah dalam studi-studinya, maka diapun merasa ragu apakah para penguji akan meluluskannya.” Keesokan harinya, di tengah-tengah ujian, sepucuk surat penting untuk uskup datang untuk langsung ditanggapi olehnya. Berdasarkan mereka yang telah diuji, uskup merasa yakin bahwa para diakon lainnya (yang belum diuji, termasuk Yosef) juga sudah menyiapkan ujian ini dengan baik. Keesokan harinya, tanggal 18 Maret 1628, Yosef ditahbiskan imam. 

Dalam ensikliknya Ad Catholici Sacerdotii, Paus Pius XI menulis: “Kekudusan adalah keutamaan yang pertama dan paling penting dari imamat Katolik. Tanpa kekudusan, kualitas-kualitas lainnya hampir tidak bernilai. Dengan kekudusan, meskipun kualitas-kualitas lainnya inferior,  semua itu dapat dilengkapi dengan indah, seperti yang terjadi dalam diri Santo Yosef dari Cupertino.”[4] 

Tidak ada kelekatan pada Dunia 

Setelah pentahbisannya Pater Yosef tidak lupa memposisikan dirinya sebagai yang paling terakhir, paling bawah, dalam komunitasnya. Dia sibuk melakukan tugas-tugas kecil-tak berarti seperti menjadi tukang-kebun, cleaning service biara, memelihara kandang hewan, membantu koki di dapur. Seringkali dia juga terlihat mengangkat batu untuk biara yang memang belum selesai dibangun. 

Malam hari dipakainya untuk studi demi perbaikan dalam capaiannya di bidang ilmu pengetahuan. Namun Pater Yosef masih saja menghadapi halangan-halangan dari satu-dua confraternya. Mereka tidak memberikan minyak untuk lampunya, mereka menuduhnya malas dan seterusnya. Pater Yosef dianugerahi karunia sebagai bapak pengakuan yang baik, dia pun dengan tekun memperdalam pengetahuannya dalam teologi moral. Di malam hari yang sudah sunyi senyap, imam muda ini membersihkan gereja, mengumpulkan kotoran di tangan-tangannya. Ini semua dilakukannya karena devosinya dan sebagai suatu sarana mortifikasi. 

Salah satu dari banyak keutamaan yang membuatnya menjadi seorang religius yang suci adalah kaul kemiskinan. Karena dilahirkan dalam kemiskinan Pater Yosef sempat memiliki keterlekatan pada barang-barang miliknya dan pemberian dari para anggota keluarganya yang kaya dan kawan-kawannya, misalnya pakaian yang bagus, lukisan dan jam. Godaan-godaan melawan semangat kemiskinan, pergumulan untuk menjadi kudus dan menghayati hidup sederhana berlangsung selama dua tahun. Dalam pergumulan batinnya, pada suatu malam Pater Yosef menangis tersedu-sedu di tempat tidurnya dengan jubahnya yang compang-camping. Dia merasa telah ditinggalkan Allah, namun kedatangan seseorang yang tak dikenal yang menghiburnya dengan pemberian berbentuk jubah baru. Di belakang hari Pater Yosef mengatakan bahwa orang yang datang itu adalah seorang utusan dari surga. Sejak saat itu Pater Yosef dipenuhi dengan cintakasih dan iman dalam kemiskinan, dan rohnya siapa untuk menanggapi apa pun yang datang dari surga. 

Awalnya: Hari Raya Santo Fransiskus dari Assisi, 4 Oktober 1630 

Pater Yosef sekali-sekali terdengar merintih seperti terkena tusukan belati. Kalau sedang sendiri dalam ruangannya, dia akan ‘terbenam’ dalam meditasi berjam-jam lamanya tanpa sadar akan waktu yang telah dilalui. Para confraternya terutama Pater Caputo, mulai mengikuti gerak-geriknya dengan saksama. Mereka melihat Pater Yosef seakan hidup dalam sebuah dunia yang berbeda, tak sadar dengan keadaan sekelilingnya, dalam sebuah kapel kecil Santa Barbara yang terletak hanya beberapa meter dari biara mereka. 

Pada tanggal 4 Oktober 1630 di Cupertino diselenggarakan suatu prosesi untuk menghormati Santo Fransiskus. Tiba-tiba Pater Yosef melayang ke udara  dan tetap dalam ekstase serta tak bergoyang di depan mata orang banyak yang takjub dan bingung. Suatu suara dalam batinnya membujuk dia untuk membuang segala sesuatu demi Kristus.  Ketika ekstase itu berakhir, Yosef yang merasa malu dan kikuk langsung lari ke rumah ibundanya untuk membagi-bagikan potongan-potongan terakhir dari pakaian dunianya. Sejak saat itu dia hidup untuk Tuan Puteri Kemiskinan dengan penuh ketaatan. Dia minta para confraternya memanggilnya sebagai hamba dari biara. Dia memilih tindakan mortifikasi yang paling keras, tidak makan roti, daging dan tidak minum anggur. Dia makan dedaunan dan buah-buahan. Meskipun lemas, dia akan selalu merasa disegarkan kembali dan diperkuat setelah merayakan kurban Misa. Kehidupan Pater Yosef terlihat mulai berubah. Ekstase-ekstasenya lebih sering terjadi setiap harinya. Mendengar nama Yesus dan Maria saja sudah menyebabkan dia masuk ke dalam ekstase dan akan tetap begitu sampai kekuatan supernatural meninggalkan dirinya atau apabila superiornya memerintahkannya untuk kembali ‘normal’ demi ketaatan yang suci. Melayang di tengah-tengah Misa sudah merupakan kejadian sehari-hari. Bahkan di siang hari pun, manakala rohnya bernyala-nyala dengan devosi, Pater Yosef akan terangkat ke atas sampai ke sebelah atas dari altar, atau pohon atau gambar untuk devosi lainnya. 

Pelataran altar di gereja Grottella menjadi tempat yang penuh kesibukan. Kekaguman dan ketakjuban umat setiap kali Pater Yosef mengalami ekstase atau pengangkatan ke atas membuat gereja menjadi ribut dan gaduh seperti sebuah pasar. Selagi mengalami ekstase Pater Yosef dapat terlihat menangis, berteriak, bahkan mengakukan dosa-dosanya sendiri. Banyak orang  akan mengelilinginya di dekat altar untuk sebisa-bisanya menyentuh orang kudus ini. Mereka mengamati Pater Yosef dari segala sudut, menggerak-gerakkan lengannya. Ada yang menusuknya dengan jarum atau dengan menyentuhnya dengan api, sampai saat superiornya datang untuk menenangkan situasi. Setelah diperintah oleh superiornya, dengan rasa malu Pater Yosef kembali menjadi dirinya sendiri, kemudian melanjutkan Misa. Pater Yosef sendiri lebih suka merayakan Misa secara privat atau tidak samasekali. Namun ketaatan dan suatu kekuatan pendorong lebih kuat daripada hasrat akan kedinaan dan keheningan. 

Meniru Fransiskus merupakan motivasi kuat dalam kehidupan Pater Yosef. Niatnya untuk berziarah ke Assisi dan Loreto batal karena berjangkitnya penyakit menular di tengah perjalanannya. Sementara itu Pater Yosef semakin menyerupai Santo Fransiskus: dia adalah bentara sang Raja dalam praktek kemiskinannya, dalam cintakasihnya kepada Kristus tersalib, dan banyak hal lainnya lagi. Ketika para gembala datang ke Grottella untuk memainkan alat musik tiup yang dalam bahasa Inggris  disebut bagpipes (ingatlah alat musik orang Skotlandia), Pater Yosef akan menyanyi dan menari, lalu terbang-melayang seperti seekor burung mendekati Sang Bayi yang terbaring dalam palungan. Bahkan hewan-hewan pun patuh kepadanya, dan kelinci-kelinci berlindung dalam jubahnya kalau dikejar pemburu. Banyak lagi cerita yang penuh dengan tanda-tanda heran sehubungan dengan hewan /binatang ini. Domba-domba turut mengembik dengan penuh harmoni ketika Pater Yosef dan para gembala mendaraskan litani di kapel Santa Barbara setiap hari Sabtu. 

Berbagai karunia 

Pater Yosef dianugerahi banyak karunia spiritual: karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, karunia untuk berkata-kata dengan pengetahuan, karunia iman, karunia untuk menyembuhkan, kuasa untuk mengadakan mukjizat, karunia untuk bernubuat dan lain-lain. Satu cerita saja: Ketika sedang jalan meminta-minta sedekah di gereja Santo Petrus di Lama, keluarga Polita menyambut imam ini di rumah mereka. Ibu Polita mengajukan permohonan kepada Pater Yosef: “Pater Yosef, sentuhlah puteriku ini.”  Di atas kursi duduklah seorang anak perempuan yang mengalami kelumpuhan pada hampir seluruh tubuhnya karena penyakit campak yang ganas dan luarbiasa. Pater Yosef berpaling kepada anak perempuan itu dan berkata: “Marilah ke sini dan ciumlah Kristus.” Di depan kedua orangtuanya yang terkesima, anak perempuan kecil itu bangkit dan berjalan mendekati Pater Yosef, lalu mencium salibnya. 

Gereja Grottella dengan cepat menjadi tempat populer bagi orang-orang yang menderita sakit-penyakit dan cacat. Pater Yosef yang rendah hati itu tidak melakukan apa-apa kecuali menyambut mereka dengan ramah dan menghibur mereka. Dia akan minta orang-orang yang sakit dan cacat untuk menggosokkan minyak lampu Santo Fransiskus. Karena banyak sekali orang yang disembuhkan, makin banyak lagi orang datang ke tempat itu. 

Sepanjang hidup pelayanannya sebagai seorang imam, Pater Yosef menghadapi berbagai cobaan, antara lain dari superiornya sendiri dalam Ordo. Dia pun harus memanggul salibnya setiap hari (lihat Luk 9:23). Pater Yosef wafat di biara Osimo pada tanggal 18 September 1663. Pater Yosef dikanonisasikan oleh Paus Clement XIII pada tahun 1753. Dalam TAHUN IMAM ini, baiklah kita menyadari bahwa Santo Yosef dari Cupertino merupakan orang kudus yang patut untuk diteladani oleh para imam kita, seperti juga Santo Yohanes Maria Vianney. Santo Yosef dari Cupertino adalah a man for others, seorang ikon Kristus yang sejati! Saya berhenti di sini dulu. Semoga saudara-saudari telah memperoleh info-dasar mengenai orang kudus ini. 

Untuk direnungkan secara pribadi[5] 

  1. Seperti hati Santo Fransiskus yang dipenuhi dengan cintakasih mendalam kepada Tuhan-nya yang tersalib, maka  anak rohaninya Santo Yosef dari Cupertino tertarik kepada salib Kristus. Dia terangkat ke atas, melayang-layang sampai ke depan salib besar yang tergantung di dinding gereja, kelihatannya seakan-akan tubuhnya begitu ringan seperti tubuh-tubuh yang telah dimuliakan. Di situlah dia berdiam untuk beberapa waktu lamanya, di depan luka terbuka pada lambung Tuhan-nya, memandangi Hati Kudus Yesus sendiri. Tuhan Yesus bersabda: “… dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32). Apakah ada alasan lagi bagi kita untuk tidak tertarik pada-Nya, paling sedikit di kedalaman hati kita? Thomas a Kempis, penulis buku rohani ‘Mengikuti Jejak Kristus’, mengatakan bahwa dengan dua sayap manusia diangkat ke sebelah atas dari hal-hal duniawi, yaitu kesederhanaan dan kemurnian (2,4). Sekarang periksalah status diri saudara-saudari masing-masing, apakah telah memperoleh kedua sayap tersebut? 
  2. Lewat sarana apa kita harus diinspirasikan oleh luka-luka pada lambung Kristus? Kita harus memiliki pikiran dan perasaan seperti yang dimiliki Yesus Kristus sendiri. Santo Paulus menulis: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5). Dari Hati Kudus Yesus ini, pertama-tama dan terutama, kita semua harus belajar kelemah-lembutan dan kedinaan-Nya, belarasa yang ditunjukkan oleh Kristus ketika Dia bersabda: “Apabila seseorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni …” (Mat12:32) dan apa yang dilakukan-Nya dan diucapkan-Nya pada kayu salib di Kalvari. Selagi tergantung di kayu salib Ia mendoakan mereka yang menghukumnya dan menghujatnya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34; bdk. Mzm 22:19). Ke dalam Hati Yesus yang terkudus inilah Santo Yosef dari Cupertino menaruh segala pencobaan dan salib yang dialaminya sebelum menyentuh hatinya sendiri. Maukah saudara-saudari menaruh segala godaan dan cobaan yang anda alami pada Hati Kudus Yesus, agar kelemah-lembutan Kristus dapat meliputi dirimu? 
  3. Setelah mengkontemplasikan luka-luka lambung Kristus, maka Roh Kudus akan memenuhi diri kita dengan semangat untuk mewartakan kemuliaan Allah dalam Kristus dan mendapatkan jiwa-jiwa bagi-Nya. Semangat seperti inilah yang berapi-api dalam hati Santo Yosef dari Cupertino. Untuk tujuan inilah orang kudus ini mengarahkan doa-doa dan laku-tobatnya. Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: berapa besar semangat yang ada dalam diri kita masing-masing untuk hal-hal yang ilahi, untuk keselamatan jiwa kita sendiri dan jiwa-jiwa orang lain? Apakah kita bersikap suam-suam kuku, masa-bodoh dalam hal-hal ini? Sampai berapa parahnya sikap-sikap tersebut telah menguasai diri kita? Sering-seringlah memandang luka pada lambung Yesus Kristus, dan mohonlah kepada-Nya agar menarik saudara-saudari kepada diri-Nya, sehingga semangat Hati Kudus-Nya dapat bernyala dalam dirimu.  

Cilandak, 18 September 2009

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


[1] Pater Joseph Cilia OFMConv., PRESENTATION, dalam Franciscan Documentation, Vol. 12, No.47, 2003 No. 3-4, hal. 1.

[2] Ibid.

[3] Cerita berikutnya banyak mengandalkan tulisan Gustovo Parisciani OFMConv. , ECSTASY, JAIL AND SANCTITY –THE LIFE OF ST. JOSEH OF CUPERTINO, dalam Franciscan Documentation, Vol. 12, No.47, 2003 No. 3-4, hal. 3-48.

[4] Gustavo Parisciani OFMConv., hal. 7.

[5] Adaptasi dari Marion A. Habig, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS, Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1979, hal. 705-706.


disadur sepenuhnya dari : 

https://catatanseorangofs.wordpress.com/2010/01/20/beberapa-catatan-dari-kehidupan-santo-yosef-dari-cupertino-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berbagi doa, ungkapan hati dan komentar. Sharing pengalaman iman juga boleh. Semoga menjadi berkat