Bacaan Kitab Suci dan Renungan Harian Selasa, 14 September 2021
“Salib adalah Kurban Kristus yang unik, “satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia” (1 Tim 2:5). Tetapi karena dalam Pribadi ilahi-Nya yang menjadi manusia, Ia dalam suatu cara telah menyatukan diri-Nya dengan setiap manusia, “Kemungkinan untuk menjadi rekan, dalam cara yang diketahui Allah, dalam misteri Paskah” ditawarkan kepada setiap manusia (GS 22,2).
Yesus mengajak murid-murid-Nya, untuk “memanggul salibnya” dan mengikuti Dia (Mat 16:24), karena “Kristus pun telah menderita untuk kita dan telah meninggalkan teladan bagi kita, supaya kita mengikuti jejak-Nya” (1 Ptr 2:21). Ia ingin mengikut-sertakan dalam kurban penebusan-Nya ini, pada tempat pertama, orang-orang yang menjadi ahli waris-Nya (Bdk. Mrk 10:39; Yoh 21:18-19; Kol 1:24) Hal ini dicapai secara sangat mendalam oleh Ibu-Nya, yang dihubungkan dengan lebih intim daripada siapapun dalam misteri penderitaan-Nya yang menebus manusia (Bdk. Luk 2:35)” (St. Rosa dari Lima).
Doa Pembuka
Allah Bapa yang Maharahim, melalui sengsara dan wafat PuteraMu di kayu salib, Engkau menyelamatkan kami. Kami mohon, supaya kami semakin menghayati misteri penyelamatan yang agung ini, dan mengimaninya dengan sungguh, supaya kami mendapatkan penebusan dosa sebagaimana telah Engkau janjikan, demi Kristus Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dan Roh Kudus, hidup dan bekuasa, kini dan sepanjang masa. Amin
Allah Bapa yang Maharahim, melalui sengsara dan wafat PuteraMu di kayu salib, Engkau menyelamatkan kami. Kami mohon, supaya kami semakin menghayati misteri penyelamatan yang agung ini, dan mengimaninya dengan sungguh, supaya kami mendapatkan penebusan dosa sebagaimana telah Engkau janjikan, demi Kristus Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dan Roh Kudus, hidup dan bekuasa, kini dan sepanjang masa. Amin
Bacaan dari Kitab Bilangan (21:4-9)
"Semua orang yang terpagut ular akan tetap hidup, bila memandang ular perunggu."
Ketika umat Israel berangkat dari Gunung Hor, mereka berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom. Bangsa itu tidak dapat menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa, “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air! Kami telah muak akan makanan hambar ini!” Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel itu mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata, “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau; berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, “Buatlah ular tedung dan taruhlah pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut ular, jika ia memandangnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, (Mazmur 78:1-2.34-35.36-37.38)
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan
Dengarkanlah pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut untuk mengatakan Amsal, aku mau menuturkan hikmat dari zaman purbakala.
Ketika Allah membunuh mereka, maka mereka mencari Dia; mereka berbalik dan mendambakan Allah; mereka teringat bahwa Allah adalah Gunung Batu , bahwa Allah yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.
Tetapi mulut mereka tidak dapat dipercaya, dan dengan lidah mereka membohongi Allah. Hati mereka tidak berpaut pada-Nya, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.
Akan tetapi Allah itu penyayang! Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan amarah-Nya, dan tidak melampiaskan keberangan-Nya.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (2:6-11)
"Yesus merendahkan diri, maka Allah sangat meninggikan Dia."
Saudara-saudara, Yesus Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, dan menganugerahkan-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuklututlah segala yang ada di langit, dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui, “Yesus Kristus adalah Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.
Bacaan Injil (Yohanes 3:13-17)
Bacaan Injil (Yohanes 3:13-17)
"Anak manusia harus ditinggikan."
Demikianlah Sabda Tuhan
Terpujilah Kristus
Renungan
Dosa yang membawa kematian, Pertobatan yang menyelamatkan
Sahabat terkasih, Berkah Dalem.
Semoga semua sahabat dalam keadaan sehat, berkelimpahan berkat.
Bacaan dari Kitab Bilangan hari ini mengisahkan bagaimana Bangsa Israel, melawan Allah dan Musa, dan apa akibat yang mereka terima dari tindakan tersebut. Dikisahkan bahwa dalam perjalanannya di padang gurun, sesaat setelah mereka berangkat dari Gunung Hor, Bangsa Israel mengalami insiden yang mematikan, yakni dipagut ular. Peristiwa ini diawali ketika Bangsa Israel berkata-kata melawan Allah dan Musa. Namun sekali lagi Allah menunjukkan belas kasihNya, dengan memberikan penyelamatan bagi mereka. Alah berfirman kepada Musa supaya membuat ular tedung dan menaruhnya pada tiang, sehigga setiap orang yang dipagut ular dan pergi memandang ular tembaga yang ditinggikan di atas tongkat tersebut tetap hidup.
Sahabat terkasih, kita diperlihatkan kembali kepada karakter Bangsa Israel yang tegar tengkuk dan kurang bersyukur. Dalam kisah sebelumnya (Bilangan 14) dituliskan bahwa Bangsa Israel bersungut-sungut kepada Allah dan tidak percaya bahwa mereka dapat memasuki tanah terjanji dengan pertolongan Allah. Mereka mengabaikan peristiwa-peristiwa penyelamatan dan mujizat yang telah ditunjukkan Allah kepada mereka. Akibatnya, Allah memberikan hukuman kepada mereka, sekaligus menujukkan kembali belas kasihNya. Namun perilaku yang sama kemudian terulang lagi. Bangsa Israel kembali 'melawan Allah' dan Musa. Kali ini mereka bersungut-sungut kembali soal makanan. Mereka kembali lupa bahwa selama bertahun-tahun Allah menyediakan makanan bagi mereka tanpa mereka harus mencari. Kali ini Allah memberikan hukuman melalui pagutan ular yang mematikan, dan memberikan sarana penyelamatan melalui ular tembaga yang dipasang di tiang.
Sahabat terkasih, ada beberapa hal yang patut menjadi permenungan kita berdasarkan bacaan dari pengalaman Bangsa Israel tersebut.
Yang pertama, melawan Allah dan pemimpin yang telah ditetapkannya rupanya menjadi sebuah dosa yang berakibat pada kematian. Dalam kisah tersebut Bangsa Israel tidak hanya melawan Allah, tetapi juga melawan Musa, yang telah ditetapkan Allah sebagai pemimpin Bangsa Israel. Ini menyadarkan kita bahwa penting bagi kita untuk sungguh taat kepada Allah dan kepada mereka yang telah dipilih Allah menjadi pemimpin dalam kehidupan kita. Tentu saja pemimpin yang benar, yang mengemban tugas kepemimpinannya dengan benar.
Dalam kehidupan kita, ada beberapa pihak yang memiliki otoritas dan menjadi pemimpin bagi kita dan karenanya layak untuk kita taati dan hormati. Dalam keluarga, suami atau orang tua ( bdk Kel 20:12, Ef 5:22). Dalam lingkungan pendidikan ada guru. Di dalam lingkungan pemerintah, (bdk Rom 13:1 dst). Dalam pekerjaan ada boss atau atasan (bdk 1 Pet 2:18). Dalam Gereja kita, ada para imam dan Paus. Dalam konteks ini, tentu kita boleh bersikap kritis kepada mereka, namun semuanya harus dilandasi oleh sikap hormat.
Yang kedua, kita diingatkan untuk senantiasa bersyukur bahkan ketika keadaan yang kita alami sungguh sulit. Kita diajak untuk selalu mengingat kebaikan Allah, dan percaya bahwa janji Allah bagi kita pasti akan dipenuhi. Sikap syukur ini harus kita nyatakan dalam tindakan konkret; tidak bersungut-sungut, tidak menggerutu, apalagi menghujat Allah dan mereka yang telah ditetapkan Allah untuk kita hormati. Memang, sekali lagi, situasi yang kita hadapi tidak selalu menyenangkan dan sesuai dengan keinginan kita. Namun itu bukan alasan bagi kita untuk menggerutu, bersungut-sungut, protes atau bahkan menghujat. Sikap syukur ini yang akan membuat kita selalu sehat, produktif, bahagia. Rasa syukur memberikan dampat yang positif bagi kesehatan fisik dan psikologis.
Yang ketiga, dalam kitab Bilangan dituliskan, bahwa Allah mengirimkan ular tedung untuk menggigit mereka yang melawan Allah dan hambaNya, Musa. Pada saat kita mengalami kesulitan yang silih berganti, mari kita merenung, jangan-jangan kita pun sering melawan Allah sehingga kita sulit mengelola kehidupan kita dengan bijaksana. Ada masa-masa di mana kehidupan kita ibarat digigit ular tedung itu karena kita melawan rancangan Allah. Krisis kemanusiaan terjadi dimana-mana; perang, aksi terorisme, pemanasan global, kerusakan lingkungan yang mengakibatkan berbagai bencana alam, hilangnya sosok teladan dalam keluarga maupun masyarakat, penyalahgunaan narkoba dan sebagainya. dan pada saat ini, khususnya, pandemi yang sudah berjalan hampir dua tahun telah mengakibatkan bebagai sendi kehidupan kita menjadi kacau. Bahkan mungkin kita sendiri mengalami kekacauan itu; kehilangan pekerjaan, kondisi ekonomi yang memburuk, atau bahkan kehilangan sanak saudara atupun orang-orang yadupan ng kita kasihi. Bahkan yang lebih parah lagi, di tengah pandemi ini kita masih menemukan praktek tindak korupsi dan berbagai tindakan manipulatif lainnya, yang ujungnya hanya untuk keuntungan pribadi maupun sekelompok orang.
Keempat, dalam kondisi kehidupan yang serbat menakutkan, mencemaskan, mengancam, bagaimana kemudian sikap kita? Yang paling utama adalah kita harus berani mengakui kedosaan kita, baik secara personal maupun kolektif. Bertobat dan kembali kepada Allah. Kita sungguh patut bersyukur bahwa Allah selalu penuh dengan kasih dan senantiasa menawarkan karya keselamatan. Dan ini secara dinyatakan secara penuh dan utuh dalam diri Yesus.
Yesus yang pada hakikatnya adalah Allah yang agung dan mulia, telah mengambil rupa dan tempat yang hinda dan rendah, melalui sengsara dan wafatnya di kayu salib. Namun justru karena itulah Ia ditinggikan, dimuliakan, dan siapapun yang memandangNya, menerimaNya, akan memperoleh keselamatan.
Semoga kita senantiasa menyadari dan bersyukur atas kebesaran kasih Allah bagi kehidupan kita, senantiasa merendahkan diri dihadapanNya, memandang kepada salibNya yang suci, dan memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal.
Marilah kita berdoa
Terpujilah Tuhan Yesus Kristus, yang wafat di kayu salib, di salib untuk dosa kita.
Kristus Suci yang disalib, mohon perlindungan.
Kristus Suci yang disalib, mohon selalu beserta kami.
Kristus Suci yang disalib, Engkau adalah terang abadi untuk keluarga kami
Kristus Suci yang disalib, datanglah di akhir perjalanan hidup kami
Kristus Suci yang disalib, lindungilah kami dari mara bahaya, dari malapetaka, dari senjata tajam, dari sakit penyakit.
Kristus Suci yang disalib, lindungilah kami dari niat jahat sesama manusia dan lumpuhkanlah segala kekuatan gelap yang berada dalam tubuh mereka, sehingga mereka tidak berkutik sampai akhir hidup mereka.
Kristus Suci yang disalib, lindungilah kami dari roh-roh jahat. Perintahkanlah Malaikat Mikhael untuk membelenggunya bila mereka mengganggu dan tinggal dalam rumah kami.
Kristus Suci yang disalib, keluarga kami meluhurkan Dikau, bukalah pintu rejeki bagi keluarga kami, agar kami tidak mengalami kesulitan dalam berbagai usaha kami.
Salib suci Kristus, kami luhurkan Dikau
Oh, Yesus Kristus dari Nazareth yang wafat di salib, lindungilah kami dari seteru jahat, baik yang terlihat maupun tak terlihat, sekarang dan selama-lamanya
Bapa yang kekal, kupersembahkan kepadaMu darah termulia PuteraMu Ilahi, Tuhan kami Yesus Kristus, dalam persatuan dengan misa kudus yang dipesembahkan seluruh dunia pada hari ini.
Bagi arwah-arwah di api pencucian, bagi para pendosa dimanapun berada, bagi para pendosa di dalam Gereja univesal, juga bagi mereka yang tinggal di rumah kami dan dalam keluarga kami. Amin.


Pada saat kita mengalami kesulitan yang silih berganti, mari kita merenung, jangan-jangan kita pun sering melawan Allah sehingga kita sulit mengelola kehidupan kita dengan bijaksana ~ L Surya H
BalasHapusKita harus bersyukur kepada Tuhan karena sudah diberikan Anak manusia yang membantu kita dan menebus dosa manusia. Kita hanya harus berdoa dan percaya kepadanya agar mendapat hidup kekal dan keselamatan pada akhir jaman. Karena anak manusai datang untuk menyelamatkan.
BalasHapus